Simpati Sinis

Beberapa hari ini saya ‘mencoba’ peran lain: menjadi Ibu Rumah Tangga. Istri saya sakit, sehingga saya mengambil tugas dia: mengurus tiga orang anak, bersih-bersih rumah, makanan, dan pekerjaan rumah lainnya. Kebetulan di Singapore itu libur tahun baru Cina (Senin dan Selasa), sehingga saya bisa turun tangan menjadi ‘Ibu Rumah Tangga’.
Setelah menjalani peran sebagai Ibu Rumah Tangga selama empat hari, baru saya benar-benar merasakan sibuknya menjadi seorang Ibu. Padahal anak-anak libur, jadi tugas seperti menyiapkan baju sekolah, sarapan, membimbing pengerjaan PR ngga perlu saya lakukan. Tapi tetep aja saya merasakan kesibukan yang amat sangat.

Dulu, beberapa kali saat pulang kerja, saya liat istri saya kecapean, saya bilang “Iya, ngga kebayang capenya jadi ibu,” sekarang saya jadi makin tau dan merasakan betapa capenya kegiatan seorang ibu. Jadi inget salah satu status temen di Facebook: “Ngga ada hari Bapak di Indonesia, mungkin karena kontribusi kita (sebagai bapak) belum patut diingat/diperingat.” Setelah empat hari itu, saya rasa Hari Ibu seharusnya dibuat 12 kali dalam setaun. Bukan merendahkan/meremehkan bapak-bapak, tapi terlalu banyak kontribusi ibu dalam kehidupan, dengan kasih sayangnya yang tak terbatas.

Ini salah satu hal yang penting untuk bisa menghargai orang lain: bukan hanya Continue reading