
Awal 1994. Saya mewakili sekolah dalam event Borobudur 10K, lomba lari 10 kilometer yang garis finish nya di Candi Borobodur – Jawa Tengah. Pesertanya bermacam-macam, dari mulai atlit lokal sampai orang bule.
Sekolah saya itu semi-militer, jadi lari udah makanan sehari-hari. Tapi 1 bulan sebelumnya, latihan intensif diadakan. Rasanya, dengan latihan itu, jarak 10 kilometer ngga ada masalah. Rasanya. Sampai saat saya mencapai kilometer ke-7.
Di kilometer ke-7, rasanya mau mati. Nafas udah ngga karuan, kaki sepertinya udah ngga kerasa, mata berkunang-kunang. Saat itu, saya udah mau berhenti aja, terlintas di pikiran bahwa saya ngga bisa dan ngga punya kemampuan untuk menyelesaikan 3 kilometer selanjutnya. Mau berhenti.
Di tengah pikiran yang Lanjut membaca
