Suatu hari, ada seorang badut bernama Jojo yang sangat menyukai pekerjaannya di sebuah rombongan sirkus. Dia sangat menikmati perjalanan dari satu kota ke kota lain, bertemu banyak orang dan anak kecil, membuat orang lain tertawa dan bahagia. Suatu hari, entah kenapa, dia merasa murung. Akibat murung, diapun kehilangan keahliannya untuk membuat orang lain tertawa dan bahagia. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk melepas baju badutnya, dan pergi ke kota secara diam-diam. “Pekerjaan badut itu membosankan, dan saya udah ngga lucu lagi,” pikir si badut itu.
Sesampainya di kota, dia menuju suatu rumah makan. Rumah makan itu ramai sekali, kebetulan sedang waktu makan siang. Dia berusaha mencari meja kosong, tapi semuanya penuh, sampai matanya tertuju ke meja dengan dua kursi, yang salah satu kursinya ditempati oleh seorang bapak setengah baya. Karena sudah lapar, diapun mendekati meja tersebut. “Boleh saya duduk di tempat ini?” tanya Jojo. Bapak itu mengangkat kepalanya dengan perlahan, dan mengangguk pelan. Jojo pun segera duduk.
Bapak yang duduk dihadapannya itu terlihat letih, dengan mata yang bengkak. Suasana ramai disekitarnya sangat berbeda dengan pandangan matanya yang kosong, sepi. Jojo, yang sudah terbiasa berbicara dengan orang banyak, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. “Kenapa Bapak sedih?” tanya Jojo dengan senyum khasnya. Bapak itu hanya tersenyum kecil, menatap Jojo beberapa saat, kemudian Lanjut membaca
