Kata Harus Sebaiknya Ngga Ada Di Kamus

Hari ini saya mencoba menghitung berapa kali saya menggunakan kalimat “Saya harus…”

“Saya harus makan extra kilat karena saya harus menyelesaikan pekerjaan ini.”
“Saya harus menulis sesuatu untuk dua blog saya.”
“Saya harus pulang telat karena kerjaan masih numpuk.”

Yang jadi pertanyaan: Apa semua itu memang harus?

Makan extra kilat ngga terlalu mendesak juga, istirahat 30 menit malah bagus buat badan dan pikiran.
Pekerjaan, walaupun memang selalu ada deadline, apa bener-bener harus beres hari ini juga? Continue reading

Satu Langkah Ke Depan Daripada Terbang Ke Bulan

Taun baru 2012. Setiap mendekati pergantian taun, salah satu hal yang sering muncul adalah resolusi tahun baru, janji tahun baru: menurunkan berat badan, lebih hemat, berhenti merokok, dan janji-janji lainnya.
Setiap akhir tahun juga, kebanyakan orang melihat setahun kebelakang bahwa hampir semua (kalau bukan semuanya) janji-janji itu ngga pernah dikerjakan.
Semua janji-janji itu baik, hanya masalahnya, suatu tujuan itu sulit dicapai jika cara Anda merencanakan bagaimana mencapai tujuan itu kurang tepat.

Satu langkah ke depan lebih baik daripada bayangan terbang ke bulan menggunakan roket. -Borrys Hasian

Bagaimana cara merencanakan tujuan?

Ada lima hal yang bisa membantu Anda untuk merencanakan pencapaian tujuan dengan lebih baik: Continue reading

Undangan Untuk Menyerang

Beberapa hari lalu di kantor saya sempet ada drama di pagi hari. Seorang direktur ribut dengan staf nya, dan kata-kata yang paling saya inget keluar dari direktur itu adalah “I’m your Boss..!”. Setelah ribut berakhir, masing-masing kembali ke mejanya dengan muka cemberut.

Dua hari lalu saya juga mendapat ‘undangan’ untuk menyerang.
Kami sedang mengerjakan suatu proyek software untuk konsumer di Singapore dengan waktu yang cukup singkat, sekitar 3 bulan. Bagian saya, software design, harus diselesaikan dalam waktu 14 hari.
Yang jadi masalah, management dari proyek itu selalu punya ide untuk merubah atau menambah design yang udah ada. Setelah beberapa kali perubahan disana sini, akhirnya mereka mengatakan “Ini perubahan terakhir, final, setelah itu kami akan approve design nya.”

Sesuatu yang membuat lega, hanya masalah waktu yang ngga tepat: perubahan itu diminta dilakukan dalam dua hari sebelum orang-orang pada cuti akhir taun.
Hal itu menjadi lebih sulit lagi, karena product manager ternyata sudah cuti ke Swedia.
Biasanya product manager yang akan membuat daftar perubahan, dan saya bagian design nya. Karena dia sudah cuti, akhirnya saya yang membuat daftar perubahan, dan ternyata setelah komentar para management diubah ke daftar perubahan, itu bukan perubahan yang sedikit. Kerja dua hari bisa dilakukan, kalo saya kerja ekstra di luar 8 jam.

Kerja ekstra pun saya lakukan. Pas di hari kedua, jam 6 sore, saya masih mengerjakan dua halaman terakhir, ada email masuk dari Product Manager, dan dia mengatakan “Aneh, kok bisa perubahan seperti itu memakan waktu lama?”
Detik itu juga saya terdiam. Dalam pikiran saya, beberapa pilihan reaksi muncul.
Yang pertama, membalas emailnya dengan sinis, menyindir bahwa dia bisa enak liburan di Swedia sementara saya kerja, dan mengatakan bahwa dia ngga tau apa-apa tentang design.
Pilihan kedua yang muncul, adalah saya tetep terus kerja mengejar dua halaman terakhir itu, kemudian membalas emailnya dengan lampiran design terakhir dan daftar perubahan yang harus dibuat selama dua hari itu. Dan tidak menyinggung atau membalas sedikitpun komentar sinis orang tersebut.

“Dengan cara yang lembut, Anda bisa mengguncang dunia.” -Gandhi

Jika Anda jadi saya, pilihan mana yang Anda pilih?
Buat saya, pilihan pertama sedemikian kuatnya, sehingga saya hampir memilih untuk menyambut undangannya untuk menyerang. Tapi akhirnya saya memilih pilihan kedua.
Saya inget kata-kata Gandhi yang kurang lebih seperti ini: “Dengan cara yang lembut, Anda bisa mengguncang dunia.”

Beberapa jam setelah saya mengirim email yang berisi design terakhir, tanpa kata-kata yang menyerang, saya mendapat email balasan dari Direktur department saya yang mengatakan bahwa mengerjakan design itu dalam dua hari itu sesuatu yang luar biasa. Management pun puas dengan design terakhir itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, selalu aja ada ‘undangan’ untuk ‘menyerang’. Ada orang yang memotong antrian, Anda diundang untuk kesel. Di atas kereta ada orang yang main seruduk, Anda juga diundang untuk sewot. Di tempat makan, ada pelayan yang melayani anda dengan kesal, seolah-olah Anda berbuat salah dengan bertanya tentang suatu menu, Anda juga diundang juga untuk menyerang.

Dalam salah satu situasi yang mengundang untuk menyerang seperti itu, coba Anda pilih untuk bersikap ‘lembut’, senyum, dan fokus pada tujuan/kerja Anda.
Somehow, pilihan untuk ‘tidak menyerang’ bisa membawa kebaikan, dan siapa tau kebaikan itu bisa membawa anda melangkah jauh dari posisi anda yang sekarang.

Bagaimana pendapat Anda?

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Latah Sukses

“Kalo kita liat orang lain berhasil di satu bidang, jangan latah pengen ikutan di bidang itu juga. Tiap orang punya keunikan masing-masing, potensi diri yang unik, dan kesukaan yang unik juga.
Mungkin kita tertantang untuk masuk ke bidang orang, untuk membuktikan bahwa ‘kita juga bisa seperti mereka’. Tapi, waktu kita di dunia ini cuman sedikit. Ketimbang menghabiskan waktu untuk membuktikan bahwa ‘kita juga bisa seperti mereka’, kenapa ngga melakukan hal yang kita sukai, dan berhasil di bidang yang kita sukai?”

Jawaban itu saya kasih, pas ada beberapa orang yang meminta tips untuk karir, terutama gimana supaya bisa kerja di luar negeri.
Bisa melakukan sesuatu dengan baik aja ngga cukup. Anda harus memiliki ‘passion’ (gairah – tapi kalo pake gairah kok rasanya agak negatif ya? :D ) dalam melakukan pekerjaan. Dengan memiliki ‘passion’, anda jadi bekerja dengan sepenuh hati, berusaha melakukan yang terbaik, dan yang penting : jangan jadikan uang sebagai tujuan utama.
Karena kalau anda udah melakukan sesuatu dengan ‘passion’, uang itu hanya efek sampingnya aja, hadiah atas pekerjaan anda yang baik.

“People rarely succeed unless they have fun in what they are doing.” – Dale Carnegie -

Jadi gimana memulainya?
Pertama cari tau dulu bidang yang anda suka, yang membuat anda bergairah saat mengerjakan hal tersebut.
Kedua, berusahalah untuk menjadi orang yang paling ahli di bidang tersebut. Terus belajar, dan belajar, dan belajar.
Ketiga, buat diri anda ‘terlihat’ dan ‘terdengar’ oleh orang lain.
Di jaman internet gini, gampang banget untuk membuat diri anda terlihat dan terdengar : buat blog, aktif di forum, aktif di situs pencari kerja, dll.
Seahli apapun anda, sehebat apapun anda, ngga bakal berguna kalo ngga ada satu orang pun yang tau bahwa anda eksis di muka bumi ini :)

Inget bahwa hidup ini singkat, jadi ‘Do what you love, and love what you do!’

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Yupi Cacing

Anak saya yang paling kecil, umurnya udah hampir 2 taun. Bicaranya udah pandai, dan mulai ngerti ditinggal.
Jadi kalo saya mau pergi ngantor, kadang-kadang dia suka pengen ikut, ngambil sepatunya sendiri, trus berusaha keluar pintu.
Kalo udah gitu, istri saya bakal membujuk anak saya, dan dia bakal bilang : “Abi pergi kerja untuk cari…”, dan anak saya itu bakal menyambung dengan “Yupi Cacing..”. (Yupi cacing itu permen jelly).

Pergi kerja untuk cari Yupi Cacing.

Betapa sederhananya hal yang bisa membuat anak bahagia. Pergi kerja untuk cari Yupi Cacing, bukan duit yang banyak, atau bukan ‘cari duit untuk beli mobil’, atau ‘cari duit untuk menumpuk tabungan’.
Tentu saja anda bakal berkata “Ya beli Yupi Cacing kan pake duit.”
Betul, tapi harga kebahagiaan orang dewasa itu mahal sekali, dan seringkali diluar jangkauan kita sendiri. Akibatnya kita ngga pernah merasa bahagia.

Harga kebahagiaan orang dewasa itu mahal sekali, dan seringkali diluar jangkauan kita sendiri. Akibatnya kita ngga pernah merasa bahagia.

Orang yang memiliki 10 juta perak, rasanya sama bahagianya dengan orang yang memiliki 1 Milyard.
Jika anda mengatakan hal diatas itu sesuatu yang bisa didebat, berarti anda udah meletakkan harga yang tinggi untuk kebahagiaan anda sendiri.
Apa bahagia itu berarti punya rumah seharga 500 juta perak? Apa bahagia itu berarti punya mobil seharga 300 juta perak?

Melihat dan memperhatikan kehidupan anak kecil, membuat saya rindu pada kebahagiaan yang sederhana, sebuah kebahagiaan yang membuat saya melihat dunia sebagai tempat yang indah, bukan sebagai tempat dimana kebahagiaan terletak di rak-rak mewah yang diberi harga mahal.
Sebuah tempat dimana saya masih bisa tersenyum dan berlari bahagia dengan sebuah Yupi Cacing.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Smile

Smile though your heart is aching,
Smile even though it’s breaking.
When there are clouds in the sky
you’ll get by.

If you smile through your pain and sorrow,
Smile and maybe tomorrow,
You’ll see the sun come shining through,
For you.

Light up your face with gladness,
Hide every trace of sadness.
Although a tear may be ever so near,
That’s the time you must keep on trying,
Smile, what’s the use of crying.
You’ll find that life is still worthwhile-
If you just smile.

- A beautiful lyric by Charlie Chaplin -

1 Banding 1000

Saya inget satu dosen yang bercerita bahwa dia sedang membangun sekolah dengan konsep yang berbeda dengan sekolah yang udah ada. Salah satu hal yang menarik, adalah model ujiannya : boleh buka buku dan berbentuk essay, ngga ada pilihan ganda atau pilihan Benar/Salah.
Alasannya? Untuk membuka pikiran murid agar lebih kreatif dan lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup.
Essay dan tantangan hidup? Waktu itu saya ngga seberapa ngeh, dan lebih fokus kepada diskusi salah satu subjek kuliah.

Beberapa taun kemudian, setelah berkarir dan bertemu dengan lebih banyak orang lagi, rasanya saya bisa mengerti apa hubungannya ‘essay’ dengan ‘tantangan hidup’.
Dengan diberi soal dan pilihan ganda selama belasan taun, kebanyakan orang jadi terbentuk dengan pola pikir : untuk satu masalah hanya ada satu jawaban. Hanya ada satu solusi.
Hanya ada satu jawaban mutlak, yang lain pasti salah, dan ga bakal memberi jawaban yang diinginkan.

Untuk satu masalah, ada seribu jalan, seribu solusi.

Waktu jaman kuliah, saya senang membaca bukunya Hermawan Kertajaya yang berjudul Marketing In Venus. Salah satu hal penting yang saya dapat adalah untuk bisa berhasil, penting memiliki ‘pembeda’ dengan orang lain. Saat itu saya sedang membuat rencana karir, dan saya berpikir apa yang bisa menjadi pembeda dengan orang lain.
Setelah berdiskusi dengan banyak orang, browsing di internet, mendatangi tempat-tempat kursus, akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari ‘Java Programming’.

Keliatannya suatu pilihan yang bagus, tapi ada satu masalah besar : saya ngga punya komputer, dan ngga punya uang untuk beli komputer.
Jadi gimana cara saya belajar?
Pertama, saya beli buku tentang ‘Java Programming’, dan untuk latihan menulis kodenya, saya menulis di kertas menggunakan pensil, seolah-olah saya sedang mengetik di depan komputer. Walaupun ngga bisa dilihat hasil kodenya, tapi paling ngga saya hafal.
Kedua, teman-teman saya banyak yang memiliki komputer, tapi mereka pun cukup ‘sibuk’ menggunakan komputer mereka : untuk bermain game dan hiburan lainnya. Jadi, karena saya tetep butuh komputer untuk melihat hasil kode yang saya buat, akhirnya saya dengan suka hati datang ke kost-an temen setiap jam 6 pagi, karena saat itu mereka kebanyakan masih tidur dan komputernya nganggur.
Alhamdulillah pilihan pembeda saya itu tepat, karena hal itu yang membuat saya bisa berkarir sampai ke luar negeri.

Berita baiknya, di dunia nyata, ngga ada satu jawaban mutlak untuk setiap masalah.
Berita buruknya, jika anda menganggap ini berita buruk, maka anda harus terus berpikir dan berusaha keras dalam mencari jawaban lainnya. Untuk satu masalah, ada seribu jalan, seribu solusi.

Jadi, setiap kali anda menghadapi satu masalah, dan anda berpikir hanya ada satu solusi untuk masalah tersebut, coba tutup mata anda, dan bayangkan bahwa ada 999 solusi lain yang menanti anda untuk ditemukan.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Bukan Sekedar Daging Yang Bernafas

Beberapa hari yang lalu temen saya ada yang bertanya “Gimana membedakan bahwa sesuatu itu ambisi atau keinginan?”
“Kenapa harus dibedakan?” saya balik tanya.
Dia bercerita bahwa dia yakin bisa mencapai sesuatu, tapi bagaimana memastikan bahwa sesuatu itu memang bener bisa dicapai?
Pertanyaan memastikan sesuatu bisa dicapai, jawabannya singkat : ngga bisa dipastikan.
Hey, tunggu dulu! Kalo pencapaian sesuatu ngga bisa dipastikan, apa berarti semua bergantung pada keberuntungan?
Bukan. Anda ngga bisa memastikan sesuatu bisa tercapai. Yang bisa anda lakukan hanyalah memperbesar kemungkinan agar sesuatu itu bisa dicapai.
Bagaimana caranya memperbesar kemungkinan? Dengan melakukan sesuatu yang lebih.

Saya mau cerita pengalaman saya dalam melamar kerja.
Resume adalah tiket pertama yang penting agar seseorang mendapat kesempatan untuk maju ke tahap selanjutnya, biasanya interview awal.
Bisa jadi 1000 orang lainnya mengirim resume yang mirip, bentuk resume yang bisa didapat dengan mencari di internet.
Semuanya berbentuk dokumen.
Saya mencoba yang lain. Saya buat sebuah blog sebagai resume saya, dan komen pertama dari Direktur perusahaan tersebut adalah “Resumenya menarik.”

Apa jika saya membuat resume yang mirip dengan 1000 orang lainnya, saya bakal tetep maju ke tahap berikutnya? Bisa ya, bisa ngga.
Tapi membuat sesuatu yang lebih dari orang lain, membuat kemungkinan saya lebih besar.
Dan hal ini seringkali berhasil, saya saksi hidup dari prinsip ini.

“Seorang manusia tanpa ambisi itu mati. Seorang manusia dengan ambisi tapi tanpa rasa sayang juga mati. Seseorang dengan ambisi dan rasa sayang, itu yang benar-benar hidup.” – Pearl Bailey -

Pertanyaan pertama dari temen saya belum terjawab. Apa beda ambisi dan keinginan?
Menurut salah satu definisi kamus, ambisi itu kemauan untuk bekerja keras dalam mencapai sesuatu.
Jadi yang pertama, harus ada yang mau dicapai dulu.
“Saya ingin mendapat kerja yang lebih baik.”
“Saya ingin mendapat penghasilan lebih.”
“Saya ingin menjadi orang yang lebih baik dalam mengatur waktu.”

Ini baru tahap keinginan.
Bagaimana mencapainya? Anda membutuhkan ambisi.
Banyak orang mengaitkan ambisi dengan hal negatif. Menurut saya, kalo ngga ada ambisi, anda mungkin bakal memilih untuk mati detik ini juga. Mungkin tingkat ambisinya kecil, tapi itu hal yang membuat anda masih mau menjalani hidup.
Yang negatif adalah jika anda terlalu ambisi, dan melakukan segala cara, termasuk merugikan orang lain, demi mencapai apa yang anda inginkan.

Jadi, kalo anda merasa ‘ngotot’ untuk mencapai sesuatu, tandanya anda memiliki ambisi. Dan itu berarti anda masih hidup. Hidup yang sebenarnya, bukan sekedar seonggok daging yang bernafas.
Hanya jangan lupa tentang orang lain. Jangan merugikan orang lain.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Makan Memang Penting, Tapi Yang Ini Lebih Penting Lagi

“Gimana kerjaan?” tanya saya ke seorang rekan kerja. “Ok aja. Hari ini lembur,” jawab dia.
“Tapi enjoy kan?” tanya saya lagi.
“Ya enjoy aja, asal digaji. Asal bisa makan,” jawab rekan tersebut sambil kembali ke meja kerjanya.

Asal digaji dan bisa makan? Keliatannya suatu prinsip yang sederhana, ga ngotot, dan keliatan seperti manusia yang bersyukur.
Tapi jangan tertipu dengan prinsip yang tampaknya sederhana ini.
Kenapa?
Karena ini prinsip yang berbahaya. Lebih berbahaya daripada duduk diatas beruang kutub raksasa.
Jika duduk diatas beruang kutub raksasa berbahaya untuk fisik anda, maka prinsip ‘asal digaji bisa makan’ berbahaya untuk jiwa dan mental anda.

Saya mau mengandaikan jawaban lain dari rekan tersebut. Saat ditanya “Tapi enjoy kan?”, dia menjawab “Alhamdulillah enjoy, saya seneng membantu menyelesaikan masalah orang lain, dan saya bisa belajar banyak hal setiap harinya.”

Apa perbedaan antara kedua jawaban tersebut?
Perbedaannya adalah di tujuan. Tujuan berhubungan dengan seberapa jauh anda akan melangkah. Tujuan berhubungan dengan seberapa besar anda akan berkembang.
Jawaban pertama, tujuannya hanya dapat gaji dan bisa makan. Titik.
Jawaban kedua, tujuannya adalah membantu orang lain dan belajar banyak hal setiap harinya.

Jika duduk diatas beruang kutub raksasa berbahaya untuk fisik anda, maka prinsip ‘asal digaji bisa makan’ berbahaya untuk jiwa dan mental anda.

Membatasi tujuan, sama dengan memberi rantai pada jiwa dan mental anda. Saya bisa berkata dengan yakin, bahwa prinsip ‘asal digaji asal bisa makan’, ngga akan membawa anda jauh dari tempat anda sekarang.
Apa prinsip itu akan membuat anda memberikan yang terbaik? Mungkin. Tapi kenapa ambil resiko jika anda bisa membiarkan jiwa dan mental anda bebas?
Apa prinsip itu akan membuat anda berusaha lebih baik dari hari kehari, berusaha mengembangkan ilmu, dan memaksimalkan potensi diri? Saya ragu tentang hal itu.
Jangan jadikan uang dan asal makan sebagai tujuan. Makan itu salah satu sarana untuk anda mencapai tujuan, dan uang adalah efek sampingnya jika anda semakin berkembang dalam ilmu dan memaksimalkan potensi diri.

Google, perusahaan nomer satu untuk ‘search engine’ didirikan dengan ide yang sederhana : membuat mesin pencari yang lebih baik dan lebih berguna untuk orang lain.
Sebelum mereka sukses, salah satu pendirinya, Larry Page, saat ditanya oleh seorang Professor tentang bagaimana mereka bakal menghasilkan uang dari mesin pencari mereka, menjawab : “Kita pikir hal itu nanti.”
Kita pikir hal itu nanti. Dan tujuan mereka hanya membuat sesuatu yang lebih baik dan lebih berguna untuk orang lain.

Mungkin aneh rasanya jika anda bekerja bukan untuk uang, karena kebanyakan orang seperti itu. Tapi jika anda memiliki kemungkinan untuk melipatgandakan pendapatan anda, dengan mengganti tujuan anda, apa anda mau mencobanya?

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian