Sekarang Waktunya Untuk Bahagia

Reaksi orang bermacam-macam terhadap peristiwa kecelakaan di Tugu Tani yang merengut 9 nyawa manusia. Ada yang mengecam, ada yang memaki, ada yang mencoba bijaksana dengan mengatakan bahwa semua orang pernah berbuat salah, ada juga yang kesal sampai berpendapat bahwa pengemudi maut tersebut harus dihukum mati. Bermacam-macam reaksi orang. Setiap orang itu unik, jadi wajar reaksi dan pendapatnya berbeda-beda.
Apapun reaksi dan pendapat orang-orang, saya mau melihatnya dari sisi lain, pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut.

Saya mau cerita tentang diri saya. Dulu, setiap weekend itu saat yang mendebarkan buat saya. Kenapa? Hampir selalu acara weekend itu gagal, karena pikiran saya selalu tertuju pada pekerjaan. Badan saya bersama keluarga, tapi pikiran saya terbang kemana-mana, memikirkan pekerjaan. Saya ngga bisa enjoy saat weekend, pikiran ruwet, dan karena emosi negatif menular, akhirnya acara weekend dipenuhi dengan emosi negatif. Gagal total.

Butuh waktu dan banyak konflik untuk bisa Continue reading

Simpati Sinis

Beberapa hari ini saya ‘mencoba’ peran lain: menjadi Ibu Rumah Tangga. Istri saya sakit, sehingga saya mengambil tugas dia: mengurus tiga orang anak, bersih-bersih rumah, makanan, dan pekerjaan rumah lainnya. Kebetulan di Singapore itu libur tahun baru Cina (Senin dan Selasa), sehingga saya bisa turun tangan menjadi ‘Ibu Rumah Tangga’.
Setelah menjalani peran sebagai Ibu Rumah Tangga selama empat hari, baru saya benar-benar merasakan sibuknya menjadi seorang Ibu. Padahal anak-anak libur, jadi tugas seperti menyiapkan baju sekolah, sarapan, membimbing pengerjaan PR ngga perlu saya lakukan. Tapi tetep aja saya merasakan kesibukan yang amat sangat.

Dulu, beberapa kali saat pulang kerja, saya liat istri saya kecapean, saya bilang “Iya, ngga kebayang capenya jadi ibu,” sekarang saya jadi makin tau dan merasakan betapa capenya kegiatan seorang ibu. Jadi inget salah satu status temen di Facebook: “Ngga ada hari Bapak di Indonesia, mungkin karena kontribusi kita (sebagai bapak) belum patut diingat/diperingat.” Setelah empat hari itu, saya rasa Hari Ibu seharusnya dibuat 12 kali dalam setaun. Bukan merendahkan/meremehkan bapak-bapak, tapi terlalu banyak kontribusi ibu dalam kehidupan, dengan kasih sayangnya yang tak terbatas.

Ini salah satu hal yang penting untuk bisa menghargai orang lain: bukan hanya Continue reading

Bantu Orang Lain Agar Anda Terbantu

Terinspirasi oleh posting-an kawan saya, Ririe Al Miskam, tentang ‘Give and Take’: Ketika Memberi Menjadi Prioritas Untuk Menerima, hari ini saya mau berbicara hal yang serupa.

Saya ingin Anda mengingat saat dimana Anda pernah merasa patah semangat, berada di titik yang rendah dari kepercayaan diri Anda, dan seseorang memberi Anda semangat untuk bangkit.
Coba ingat kembali, bagaimana cara orang tersebut membantu Anda lebih bersemangat dan mengangkat rasa percaya diri Anda ke titik normal. Ingat kalimat apa yang orang itu katakan kepada Anda.

“Hanya dalam memberilah yang menjadikan siapa Anda sebenarnya.” -Ian Anderson

Sekarang, coba Continue reading

Menjadi Besar Dengan 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia

Kira-kira minggu lalu, kawan saya Dedy Lamsari mengupdate status Facebooknya tentang buku 9 ciri negatif manusia Indonesia.
Hal ini menarik, karena meskipun saya sendiri adalah manusia Indonesia, bisa jadi saya kesulitan bila ditanya “Apa ciri manusia Indonesia?”

Menurut buku yang ditulis oleh seorang Arkeolog UI-Dr.Ali Akbar, 9 ciri negatif manusia Indonesia adalah: Malas, Tidak Disiplin, Korup, Emosional, Individualis, Suka Meniru, Rendah diri, Boros, dan Percaya takhayul.

Bagaimana reaksi Anda membaca hasil penelitian Dr.Ali Akbar itu?
Beberapa merasa tersinggung dan bertahan – suatu reaksi normal jika seseorang ‘diserang’, atau Anda meng-iya-kan hasil tersebut dan berpikir ‘Bagaimana Indonesia bisa maju kalo gitu ya?’

Saya lebih tertarik membahas reaksi yang terakhir: ‘Bagaimana Indonesia bisa maju kalo gitu ya?’
Menurut saya, meng-iya-kan hasil tersebut adalah langkah pertama yang sempurna menuju kemajuan. Kenapa?
Karena jika Anda ingin memperbaiki diri, langkah pertama yang bisa dan harus Anda lakukan adalah mengakui bahwa Anda memang memiliki kekurangan.
Sekarang, sebagai manusia Indonesia, kita mengetahui kekurangan kita, atau kecenderungan negatif yang bisa muncul. Pertanyaannya sekarang adalah: ‘Bagaimana agar hal negatif itu bisa diubah menjadi sesuatu yang positif?’

“Kekuatan kita tumbuh dari kelemahan-kelemahan kita.” -Ralph Waldo Emerson

Coba kita liat satu-persatu ciri negatif manusia Indonesia tersebut, dan kemungkinan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif.

Malas
Jika bicara malas, saya jadi ingat cerita tentang penemuan mesin pemotong roti. Sebelum Otto Frederick Rohwedder menemukan mesin pemotong roti, roti-roti itu dijual dalam potongan besar, dan orang harus memotong rotinya sendiri.
Otto Frederick Rohwedder ini merasa malas untuk memotong roti, dan dia berpikir bagaimana agar dia tidak perlu repot-repot memotong roti. Akhirnya dia menemukan mesin pemotong roti yang revolusioner.
Jadi rasa malas bisa diarahkan untuk menemukan suatu metode yang lebih efektif dan efisien.

Tidak disiplin
Bicara tentang ketidak-disiplinan, banyak orang-orang yang membuat sejarah, adalah Continue reading

Nomor Antrian Untuk Berbuat Baik

Kemarin saya baca artikel yang bikin saya menghela nafas beberapa kali: Para Turis dari Seluruh Dunia Kecam Pemerasan di Besakih.
Ada satu komen yang menarik dari pembaca: “Kok gini bgt ya mental bangsa kita, gak dari pejabat sampe rakyat (sigh)

Gak pejabat sampe rakyat. Berarti itu (hampir) semua orang, bukan?
Apa jawaban Anda kalau ditanya kenapa bisa mental bangsa kita seperti itu, dari mulai pejabat sampe rakyat?

Saya mau cerita hal lain dulu, hal yang bisa jadi lebih sederhana dan lebih keliatan: masalah membuang sampah.

Cerita pertama. Pernah saya naik mobil kerabat, dan ada salah satu keponakan yang membuang bekas makanan/minuman ke karpet mobil yang terbuat dari karet. Reaksi yang empunya mobil adalah mengambil bekas makanan/minuman tersebut, kemudian membuangnya ke luar jendela.
Cerita kedua. Saat menegur salah satu teman karena membuang sampah sembarangan di pinggir jalan, reaksinya adalah menjawab bahwa pemerintah harusnya menyediakan tempat sampah dimana-mana sehingga rakyat bisa membuang sampah pada tempatnya.

Apa yang bisa disimpulkan dari dua cerita diatas? Continue reading

Kata Harus Sebaiknya Ngga Ada Di Kamus

Hari ini saya mencoba menghitung berapa kali saya menggunakan kalimat “Saya harus…”

“Saya harus makan extra kilat karena saya harus menyelesaikan pekerjaan ini.”
“Saya harus menulis sesuatu untuk dua blog saya.”
“Saya harus pulang telat karena kerjaan masih numpuk.”

Yang jadi pertanyaan: Apa semua itu memang harus?

Makan extra kilat ngga terlalu mendesak juga, istirahat 30 menit malah bagus buat badan dan pikiran.
Pekerjaan, walaupun memang selalu ada deadline, apa bener-bener harus beres hari ini juga? Continue reading

Yupi Cacing

Anak saya yang paling kecil, umurnya udah hampir 2 taun. Bicaranya udah pandai, dan mulai ngerti ditinggal.
Jadi kalo saya mau pergi ngantor, kadang-kadang dia suka pengen ikut, ngambil sepatunya sendiri, trus berusaha keluar pintu.
Kalo udah gitu, istri saya bakal membujuk anak saya, dan dia bakal bilang : “Abi pergi kerja untuk cari…”, dan anak saya itu bakal menyambung dengan “Yupi Cacing..”. (Yupi cacing itu permen jelly).

Pergi kerja untuk cari Yupi Cacing.

Betapa sederhananya hal yang bisa membuat anak bahagia. Pergi kerja untuk cari Yupi Cacing, bukan duit yang banyak, atau bukan ‘cari duit untuk beli mobil’, atau ‘cari duit untuk menumpuk tabungan’.
Tentu saja anda bakal berkata “Ya beli Yupi Cacing kan pake duit.”
Betul, tapi harga kebahagiaan orang dewasa itu mahal sekali, dan seringkali diluar jangkauan kita sendiri. Akibatnya kita ngga pernah merasa bahagia.

Harga kebahagiaan orang dewasa itu mahal sekali, dan seringkali diluar jangkauan kita sendiri. Akibatnya kita ngga pernah merasa bahagia.

Orang yang memiliki 10 juta perak, rasanya sama bahagianya dengan orang yang memiliki 1 Milyard.
Jika anda mengatakan hal diatas itu sesuatu yang bisa didebat, berarti anda udah meletakkan harga yang tinggi untuk kebahagiaan anda sendiri.
Apa bahagia itu berarti punya rumah seharga 500 juta perak? Apa bahagia itu berarti punya mobil seharga 300 juta perak?

Melihat dan memperhatikan kehidupan anak kecil, membuat saya rindu pada kebahagiaan yang sederhana, sebuah kebahagiaan yang membuat saya melihat dunia sebagai tempat yang indah, bukan sebagai tempat dimana kebahagiaan terletak di rak-rak mewah yang diberi harga mahal.
Sebuah tempat dimana saya masih bisa tersenyum dan berlari bahagia dengan sebuah Yupi Cacing.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Menghilangkan Satu Orang Egois Dari Muka Bumi

Dua hari yang lalu, saya berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Saat tiba di stasion yang dekat kantor, biasanya jam 8.30 bakal ada mobil van yang antar jemput dari dan ke stasion. Saya tunggu sampai jam 9, ternyata mobil van nya ngga ada juga. Dalam hati agak kesel : “Kemana sih supirnya, kalo memang ngga bisa jemput, kenapa ngga cari penggantinya???”
Alhamdulillah ada temen kantor yang lewat dan menawarkan tumpangan. Tapi hati masih agak kesel, karena kalo saya dateng jam 8.30 di kantor, nanti sore boleh pulang lebih awal 30 menit.

Sore harinya, mobil van yang biasanya ada sekitar jam 18.30 juga ngga dateng-dateng. Alhamdulillah ada lagi temen yang menawarkan tumpangan, jadi saya ngga perlu jalan kaki ke stasion, karena cari taxi itu susah, apalagi jam bubaran kantor.
Niat dalem hati, besok mau protes ke bagian HRD, masa supirnya ngga ada aja. Saya tetep aja sedikit kesel.

Hari ini, saya dateng lebih awal lagi, jam 8.10. Saya langsung ambil taxi langganan, seorang bapak tua keturunan Jawa.
Baru saya duduk di kursi depan, si bapak ini cerita : “De, anaknya driver DiGi itu meninggal, accident, dilanggar (ditabrak) lorry (mobil truk).”

Deg. Jantung saya kaya berhenti beberapa saat.

Perasaan saya langsung campur aduk. Sedih membayangkan rasanya kehilangan seorang anak, dan perasaan ngga enak karena saya merasa kesel saat supir itu ngga dateng menjemput saya di stasion.
Sampe detik ini, rasanya dada masih sesek, membayangkan disatu sisi saya kesel padahal disisi lainnya seorang bapak sedang kehilangan anak yang dicintainya.

Orang yang egois adalah seorang pencuri. – Jose Marti -

Seringkali kita merasa bahwa urusan diri kita yang paling penting, dan jika orang lain ngga memenuhi atau membantu urusan kita, maka ada yang salah dengan orang lain. Kita terlalu sibuk dengan urusan diri sendiri, dan menganggap orang lain hanya menjadi pelengkap aja.
Kita ngga mau berusaha memahami perasaan orang lain, dan ikut merasakannya.

Tiap orang memiliki keunikan masing-masing. Apa yang penting buat orang lain, bisa jadi ngga penting buat diri kita. Dan begitu juga sebaliknya, apa yang penting buat kita belum tentu penting buat orang lain.
Kalo anda mau berhenti sejenak tanpa memikirkan diri anda sendiri, dan mencoba memikirkan apa yang penting buat orang lain, dunia ini bakal jadi tempat yang lebih menyenangkan.
Paling ngga, satu orang egois akan berkurang dari muka bumi ini.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Bisu 1000 Taun

Terlalu banyak saya liat, anak yang menjawab orangtuanya dengan nada dan kalimat menantang, bahkan menggurui.

Saya ngga mau berkata banyak, hanya ini yang ada di pikiran saya :

Kalo aja pada tau betapa besarnya kesalahan menjawab orangtua dengan nada/kalimat menantang atau menggurui, pasti orang-orang akan memilih bisu 1000 taun daripada menjawab selama 1 menit…

Semoga aja saya sendiri juga terhindar dari sikap yang sok jago dan menggurui dalam menghadapi orangtua.
Yang pasti saya sadari, saya ngga bakal ada didunia dan menikmati hidup ini, kalo ngga ada pengorbanan dan kasih sayang orangtua, terutama Ibu.

Andai Orang Dewasa Bisa Sebahagia Anak Kecil

Tiap kali melihat anak-anak saya bermain, saya mencoba membayangkan rasanya saat seumuran mereka : tanpa beban, selalu tertawa dengan lepas, melihat segala sesuatu seakan-akan seperti pertama kali, dan selalu menunjukkan ekspresi kekaguman walaupun udah beberapa kali melihat/merasakan hal yang sama sebelumnya.
Seiring dengan pertambahan usia, dengan bertambahnya masalah yang harus diselesaikan dan tambah besarnya tanggung jawab, orang dewasa kebanyakan melupakan apa yang namanya kesenangan sebenarnya, bisa tertawa lepas tanpa beban, dan tetap kagum dengan segala kejadian yang dialami.

“Anak-anak membuat anda ingin mengulangi hidup dari awal.”
- Muhammad Ali -

Coba bayangkan sejenak bagaimana masa kecil anda, kira-kira 60 detik aja. Ingat bagaimana anda bisa tertawa lepas tanpa beban, dan lupakan dunia dewasa anda yang sering membuat anda harus mengernyitkan dahi dan penuh rasa curiga.
Jika setiap orang dewasa bisa seperti anak-anak dalam menjalani hidup dan memandang dunia ini, rasanya dunia ini bakal menjadi surga.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian